Ajal Sedekat Tali Sandal

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan, yakni kematian.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Betapapun bencinya manusia dengan kematian, tak satupun yang sanggup mengelak darinya. Kematian laksana pintu yang setiap orang akan memasukinya, namun sesudah itu, sebagian masuk jannah dan sebagian lagi masuk neraka. Kebencian seseorang terhadap kematian terkadang ditunjukkan dengan membuang jauh bayang-bayang kematian. Hidup bersenang-senang dan melampiaskan keinginan. Hingga ketika ajal datang, dia tak mampu menghindar. Sedang ia datang tanpa dipesan, tidak pula memberikan peringatan, datang secara dadakan betapa pun tak diharapkan.Kenyataan bahwa sebab kematian begitu mudah, seringkali tak menggugah kesadaran bagi orang yang sedang mabuk kepayang dengan hiasan dunia. Kita menyaksikan dan mendengar sebab kematian orang-orang, ada yang mati di usia muda, ada yang mati di saat sedang tidur, terpeleset atau bahkan ketika makan. Betapa ajal begitu dekat menjelang. Benarlah yang dikatakan Abu Bakar ash-Shidiq: “Ajal lebih dekat dengan seseorang daripada tali sendalnya.”
Faedah Mengingat Mati
Ad-Daqaaq berkata, “Barangsiapa yang memperbanyak mengingat mati, akan dimuliakan dengan tiga perkara, yakni bersegera untuk bertaubat, qana’ah-nya hati, dan rajin dalam beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melalaikan kematian niscaya akan ditimpa tiga musibah, yakni menunda taubat, tidak puas dengan apa yang telah didapat dan malas dalam beribadah.”Ketika seseorang menyadari bahwa kematian akan menjemputnya, niscaya ia akan mengingat pula persiapan untuk menghadapinya, dia akan segera ingat dengan dosa-dosa yang nantinya akan dimintai tanggung jawabnya. Hal ini mendorongnya untuk segera bertaubat. Ia juga akan berlaku qana’ah, tidak ‘kemaruk’ terhadap dunia karena dia sadar bahwa itu tidak akan dibawa mati. Selanjutnya dia akan mengalihkan perhatiannya untuk mempersiapkan kematian dengan beribadah. Kalaupun dia mencari harta, tujuannya adalah untuk memakmurkan akhiratnya.
Berbeda halnya dengan orang yang malas mengingat mati. Dia akan sibuk mencari kenikmatan dunia, bernafsu melampiaskan syahwatnya dan bergelimang dengan dosa-dosa. Karena dia tidak sadar bahwa kelak kematian akan menyergapnya dengan tiba-tiba, di saat ia belum memikirkan bekal untuk menghadapinya. Tak terpikir olehnya untuk bertaubat, atau dia merasa masih punya banyak waktu untuk menebusnya sehingga dia berangan untuk menunda taubatnya hingga waktu yang dia sendiri tidak tahu apakah nyawa masih setia bersamanya. Dia juga tidak merasa perlu untuk bersegera melakukan ibadah karena merasa belum saatnya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri rahimahullah: “Tiada seorangpun yang panjang angan-angannya melainkan pastilah buruk amal-amalnya.”Mengingat mati adalah obat mujarab untuk melunakkan hati yang keras dan membersihkan karat hati. Telah datang seorang wanita kepada ibunda ummul mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengadukan akan kerasnya hati yang ia rasakan. Maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Perbanyaklah mengingat mati niscaya hilang penyakit di hatimu!” Akhirnya wanita itupun mengerjakan wejangan itu dan hilanglah penyakit di hatinya, lalu ia datangi kepada ibunda ‘Aisyah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.
Yang Diingat Dalam Kematian:
Jika kita mengetahui faedah mengingat mati, lalu peristiwa manakah yang perlu kita ingat? Banyak peristiwa mengerikan yang dapat kita renungkan dalam peristiwa kematian, yang dengannya hati menjadi lembut, rasa takut bermaksiat semakin bertambah dan semangat ibadah semakin memuncak.Pertama, bahwa kematian datang secara mendadak. Malakul maut datang tanpa bisa dicegah, tanpa permisi dan tanpa peduli apa yang sedang dan akan kita kerjakan. Mungkin baru naik pangkat namun belum menimati gajinya, atau baru selesai membangun rumah mewah namun belum sempat menempatinya, atau telah bekerja keras dan hampir saja mendapatkan upahnya, ajal datang tanpa ampun dan tanpa kompromi.
Betapa banyak kita dapatkan seseorang berangkat ke kantor naik mobil mewah, namun siangnya harus naik keranda roda manusia? Betapa banyak orang yang paginya memakai pakaian indah berdasi lalu siangnya harus orang lain yang melepaskan bajunya untuk diganti dengan kafan? Betapa banyak orang tua yang pagi harinya memandikan anaknya namun siang harinya dia harus dimandikan orang lain sebelum dikafan dan dishalatkan?Inilah realita yang setiap hari kita dengar dan saksikan, namun keadaan kita seperti yang digambarkan Ar-Rabi’ bin Barrah: “Aku heran dengan manusia, bagaimana mereka lupakan kejadian yang pasti terjadi? Mereka lihat dengan matanya, mereka menyaksikannya, dan hatipun meyakininya, mengimaninya, dan membenarkan apa yang dikabarkan oleh para Rasul, namun kemudian mereka lalai dan mabuk dengan senda gurau dan permainan.”
Ajal menempel di ubun-ubun kita, sementara bumi menggulung di belakang kita. Kematian begitu dekat mengintai kita, seperti dikatakan Abu Abakar ash-Shidiq: “Sesungguhnya ajal itu lebih dekat dengan seseorang dari tali sendalnya.”Untuk itulah, Muhammad bin Waasi’t setiap kali hendak tidur, beliau berkata kepada keluarganya sebelum berbaring:

“Selamat tinggal wahai keluargaku, bisa jadi tidurku ini adalah yang terakhir kalinya dan aku tidak bisa bangun lagi!” Kalimat ini menjadi kebiasaan beliau setiap kali hendak tidur.
Sakaratul Maut
Kedua, hendaknya kita juga mengingat bahwa kematian itu ada masa sakarat. Seperti yang difirmankan Allah (artinya):
“Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (Qaaf: 19)
Ketika kematian menjemput Amru bin ‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu, putranya berkata, “Wahai ayah, Anda pernah berkata, “Sesungguhnya aku heran terhadap seseorang yang di ambang kematiannya, sedangkan akalnya masih lekat, lisannya pun masih sehat namun bagaimana dia tidak mau bercerita?” Maka Amru bin ‘Ash berkata, “Wahai anakku, kematian itu terlalu sulit untuk dikatakan! Akan tetapi baiklah, aku ceritakan sedikit tentangnya, demi Allah seakan-akan di atas pundakku ada gunung Radhwa dan Tihamah…Seakan aku bernafas dengan lubang jarum…Seakan di perutku ada duri yang runcing…Dan langit seakan menghimpit bumi, sedangkan aku berada di antara keduanya…”
Bayangkanlah dirimu, andai sakaratul maut mendatangimu, kegundahan pun mulai menyelimuti kalbumu! Sementara di sampingmu ada yang berkata: “Fulan telah berwasiat, hartanya belum dibagi!” Sedang yang lain berkata tentang dirimu, “Si Fulan teluh kelu lidahnya! Dia sudah tidak lagi mengenali tentangganya! Tidak bisa berkata untuk saudaranya! Sepertinya aku melihatmu masih mendengar, namun tak kuasa untuk menjawabnya! Kemudian menangislah anak-anakmu bagaikan seorang tawanan yang merengek-rengek berkata: “Kasihanilah aku wahai ayah! Siapa yang akan mengasuhku kelak?! Siapa lagi yang akan mencukupi kebutuhanku?!” Sedangkan engkau, akan mendengar perkataannya, namun tak kuasa untuk menjawabnya!
Maka marilah memperbanyak do’a:
“Ya Allah, tolonglah aku untuk menghadapi penderitaan tatkala mati dan sakaratnya.”
Husnul Khatimah atau Su’ul Khatimah
Mujahid bin Jabr berkata: “Tiada orang yang akan mati melainkan dia seperti didatangi teman duduknya, sungguh aku pernah melihat seseorang yang tatkala ditalqin “Katakan: La ilaha illallah”, dia malah menjawab: “Skak” Ibnul Qayyim juga memberitahu kami menceritakan tatkala seorang yang hobi menyanyi dituntun bacaan La Ilaha Illallah ketika meregang nyawa, dia pun malah mendendangkan lagu kesukaannya: “Busuk…busuk.”
Ada pula peminum khamr ditalqin, lalu dia menjawab: “Tidak…tuangkan arak untukku…!” Barangsiapa yang memperhatikan hal ini niscaya dia akan takut berbuat maksiat dan membiasakannya, karena akhir hayat seseorang ditentukan oleh kebiasaannya di dunia.
Malam Pertama di Kubur
Malam itu adalah penentu nasib manusia selanjutnya, tempat itu menjadi sinyal akan apa yang akan dialami berikutnya, bisa jadi dia menjadi manusia yang paling berbahagia, sehingga malam pertamanya di kubur lebih indah dari malam pertama pernikahanya di dunia, ataukah itu menjadi awal dari kesengsaraan dan penderitaan yang tiada tara. Utsman bin Affan, ketika melihat jenazah diusung tiba-tiba menangis hingga jatuh pingsan. Lalu orang-orang menggotongnya ke rumah seakan-akan dia telah menjadi jenazah. Ketika orang-orang bertanya: “Ada apa denganmu?”, ia menjawab: “Aku mendengar Rasulullah bersabda:
“Kuburan adalah fase pertama dari alam akhirat, jika seorang hamba selamat menghadapinya, ia akan gembira dan beruntung. Namun jika ia rugi –na’uzhu billah- maka rugilah seluruh akhiratnya.”
Kapan Dzikrul Maut dilakukan
Dzikrul maut dapat dilakukan ketika kita mengantar jenazah. Dengan melihatnya kita membayangkan bagaimana jika jenazah yang diusung itu kita. Alangkah mengherankan orang yang turut mengantarkan jenazah dia bisa tertawa dan bersenda gurau.
Berbeda dengan orang yang memiliki hati yang lembut, peka dan mudah tersentuh oleh sinyal-sinyal yang mengingatkan ia terhadap akhirat. Suatu ketika Hasan Al-Bashri menjenguk orang yang sakit. Beliau mendapatkannya dalam keadaan sakaratul maut! Beliau memperhatikan kesusahan dan penderitaan yang dialaminya lalu pulang kepada keluarganya dengan wajah yang lain dari wajah tatkala keluar dari rumahnya.

Mereka berkata, “Saatnya makan..semoga Allah merahmati Anda!” Beliau menjawab “Wahai keluargaku silahkan kalian makan dan minum, demi Allah aku telah melihat sesuatu yang menakutkan, aku akan selalu beramal untuk-Nya hingga hari bertemu dengan-Nya!
Ketika Umar bin Abdul Aziz mengurus jenazah, mayat sudah ditanam, diapun berbalik kepada orang-orang sembari berkata: “Seakan kubur itu berkata kepadaku, wahai Umar maukah kuberitahu apa yang aku perbuat terhadap orang ini? Aku bakar kafannya, ku robek badannya, ku sedot darahnya, ku kunyah dagingnya, aku cabut telapak dari tangannya, tangan dari lengannya dan lengan dari pundaknya. Lalu ku cabut pula lutut dari pahanya dan betis dari lututnya dan telapak kaki dari betisnya” kemudian Umar pun menangis.
Dzikrul maut bisa pula dilakukan di keheningan malam, dan bisa pula dengan ziarah kubur. Untuk yang terakhir, banyak hal yang harus dipahami batas-batasnya. Tidak boleh menentukan waktu tertentu, atau mengkhususkan kuburan tertentu, tidak ada amal tertentu selain ucapan salam, mendo’akan si mayit atau untuk mengingat mati.
Semoga Allah menjadikan kematian kita di saat amal kebaikan kita mencapai puncaknya dan kita berlindung kepada Allah dari su’ul khatimah, Amin (Abu Umar Abdillah)

Hidup Bersama Islam

Ada lima jenis negara, pertama ; negara yang banyak bicara-banyak bekerja adalah negara AS. Kedua ; negara yang sedikit bicara-banyak bekerja adalah negara Jepang. Ketiga ; negara yang sedikit bicara-sedikit bekerja adalah negara-negara dibenua Afrika. Keempat ; adalah negara yang banyak bicara-sedikit bicara adalah negara Amerika latin. Kelima ; adalah negara Indonesia yang …… ? Lain Bicara-Lain Kerjanya !?
Anekdot diatas bukanlah anekdot yang pesimisme, tetapi merupakan anekdot yang menasehati bahwa sesungguhnya yang diperhitungkan oleh manusia, lingkungan dan Allah SWT adalah amal-amal nyata, bukan manisnya kata-kata. Konsepsi Islam yang dipahami adalah konsepsi yang hidup bukan dimana-mana tetapi konsepsi yang hidup dalam tiap-tiap pribadi. Hidup dalam setiap keseharian, wherever, whenever, whatever, however…. Always Akhlaq Islam !
Ketika seorang muslim sudah memilik pribadi yang Islami maka segera dimulai langkah untuk mengislamisasi keluarga, lingkungan,masyarakat dan negara serta alam semesta ini.
Berbaur dengan Realitas

Ada beberapa hal yang sangat penting bagi kita yang selalu berfikir idealis tapi terkadang terbentur oleh kejadian yang terjadi dikenyataanya, berikut disebutkan ;
1. Mencoba merasakan penderitaan orang lain ( berempati )
2. Mendengar aspirasi banyak orang
3. Bergabung dengan lembaga-lembaga social
4. Melakukan advokasi-advokasi social
5. Melakukan aktivitas-aktivitas social
6. Bergaul dengan banyak kalangan ; miskin-kaya, muda-tua, awam-terdidik, pejabat-rakyat jelata, pengusaha-buruh, laki-laki-wanita, dll
7. Mengahdiri demonstrasi berbagai kalangan dan pemikiran
8. Menghadiri seminar-seminar atau diskusi masalah-masalah social
9. Membaca fenomena-fenomena social lewat media cetak atau televisi, merekam atau membuat klipingnya
10. Melakukan penelitian-penelitian social atau membaca hasil-hasil penelitian social.

Mendengar Aktif

Mendengar aktif intinya adalah menagnkap gagasan utama dari sipembicara. Karena gagasan utama tersebutlah yang menjadi landasan orang berbicara. Kegagalan menangkap gagasan utama akan berdampak pada kesalahpahaman mempersepsi pendapat orang lain dan kahirnya nanti akan menimbulkan respon yang tidak tepat. Dalam mendengar aktif dibutuhkan keterampilan emosi dan teknis. Kiat-kiat mendengar aktif sbb ;
1. Menyiapkan fikiran, emosi dan fisik untuk mendengarkan pembicaraan
2. Befikir positif dalam mendengarkan, jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu sebelum lawan bicara selseai bicara
3. Ekspresikan bahasa tubuh yang positif, konsentrasi dan antusias, seperti mencondongkan tubuh kehadapan lawan bicara, menhgadapkan seluruh tubuh kearah lawan bicara dan lainnya lagi atau menulis sisi pembicaraan disecarik kertas
4. Tampakkan bahasa tubuh yang positif ketika ada beberapa muatan pembicaraan yang disepakati misalnya dengan mengaggukan kepala
5. Ingat ! Dalam mendengar aktif anda tidak mengirim pesan
6. Langsung klarifikasi dengan pernyataan apabila ada hal yang kurang dipahami pada waktu yang tepat
7. Berikan respon kalau memang sudah benar-benar mengerti dan menangkap gagasan utama yang disampaikan

Memahami Kemungkaran

Kemungkaran adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan. Karena kemungkaran adalah hasil dari janji setan terhadap Allah SWT yang akan terus mengganggu manusia dari jalan Allah hingga hari kiamat.
Kemungkaran ternyata dalam pertkembangannya memiliki logika seperti wanita yang melahirkan anak, kemungkaran dapat melahirkan kemungkaran yang lainnya. Kemungkaran yang dibiarkan subur akan lebih memperbanyak timbulnya kemungkaran-kemungkaran yang lain. Kemungkaran yang semakin banyak akan dapat membenamkan kebenaran. Oleh sebab itu dalam konteks Islam merubah kemungklaran dengan segala potensi yang dimiliki adalah hal yang wajib, bahkan itu adalaha salah satu pagar penjaga bangunan Islam.
Dalam dunia politik, kemungkaran telah mengakar menjadi budaya dan nilai, kemungkaran sudah terinstitusikan dan kemungkaran sudah menjadi lingkaran setan yang sulit dibasmi. Oleh sebab itu, aktivitas membasmi kemungkaran harus melalui proses perencanaan yang cerdas dan matang, keikhlasan yang penuh, tekad yang kuat dan keberanian dalam mengambil resiko dan amal konkrit yang berkesinambungan. Dan itu hanya ada dalam sebuah gerakan perubahan social yang berbasisi pada ideology yang kuat, konsep yang sistematis, dan kreatif serta berani dalam mengambil keputusan-keputusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: